Jakarta, 10 Oktober 2026 – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Panama pada Jumat (9/10/2026) menjadi pengingat penting bagi Indonesia mengenai potensi ancaman sesar aktif yang selama ini jarang menunjukkan aktivitas kegempaan. Gempa besar tersebut terjadi di kawasan Semenanjung Azuero dengan kedalaman relatif dangkal, sekitar 12,6 kilometer. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menilai peristiwa ini memberikan pelajaran mengenai bahaya sesar senyap yang dapat menyimpan akumulasi energi tektonik dalam waktu panjang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang jarang mengalami gempa kecil belum tentu terbebas dari ancaman gempa besar. Indonesia sebagai negara dengan aktivitas tektonik tinggi perlu memperkuat pemetaan dan mitigasi terhadap seluruh sumber gempa potensial.
Gempa Panama terjadi pada Jumat pukul 12.56 waktu setempat atau Sabtu (10/10/2026) pukul 00.56 WIB. Episenternya berada di daratan Semenanjung Azuero, sekitar koordinat 7,587 derajat lintang utara dan 80,769 derajat bujur barat. Kedalaman hiposenter yang relatif dangkal menyebabkan guncangan kuat dapat dirasakan di kawasan sekitar pusat gempa. Peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan sejumlah bangunan dan memicu kepanikan masyarakat yang berusaha menyelamatkan diri. Rangkaian gempa susulan juga terjadi setelah guncangan utama sehingga masyarakat diminta tetap memperhatikan kondisi bangunan dan keselamatan lingkungan.
Daryono menjelaskan bahwa gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas deformasi kerak bumi di kawasan tektonik Panama yang memiliki struktur geologi kompleks. Analisis mekanisme sumber menunjukkan dominasi pergerakan sesar geser atau strike-slip fault. Mekanisme ini terjadi ketika dua blok batuan bergerak secara mendatar akibat tekanan tektonik yang terus terakumulasi. Ketika kekuatan batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan secara tiba-tiba dan menghasilkan gelombang gempa. Pelepasan energi dalam jumlah besar pada kedalaman dangkal dapat menyebabkan guncangan merusak di permukaan.
Salah satu perhatian utama dari peristiwa tersebut adalah kemungkinan keterkaitannya dengan fenomena sesar senyap atau quiet fault. Istilah ini merujuk pada sesar aktif yang relatif jarang menghasilkan gempa kecil, tetapi tetap memiliki kemampuan mengakumulasi tekanan tektonik. Minimnya aktivitas gempa yang terdeteksi tidak dapat langsung diartikan bahwa suatu sesar berada dalam kondisi aman. Sebagian segmen sesar dapat mengalami penguncian sehingga energi terus tersimpan sebelum akhirnya dilepaskan melalui gempa yang lebih besar. Namun, tingkat bahaya setiap sesar tetap harus ditentukan melalui penelitian geologi dan pengamatan seismik yang memadai.
Indonesia memiliki banyak jalur sesar aktif yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan kawasan Indonesia timur. Di Pulau Jawa, sejumlah struktur seperti Sesar Lembang, Cimandiri, Baribis, dan Garsela menjadi bagian dari sistem tektonik yang terus dipelajari. Aktivitas sesar daratan dapat menimbulkan kerusakan besar apabila sumber gempa berada dekat dengan kawasan permukiman padat. Kondisi bangunan, karakter tanah, kedalaman gempa, dan jarak terhadap sumber guncangan turut menentukan tingkat kerusakan. Karena itu, penilaian risiko tidak cukup hanya berdasarkan frekuensi gempa yang pernah tercatat.
Daryono menekankan pentingnya pemetaan sesar aktif secara lebih terperinci untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami gempa merusak. Pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dapat membantu mengukur pergerakan permukaan tanah akibat aktivitas tektonik. Selain itu, penelitian paleoseismologi diperlukan untuk menelusuri jejak gempa besar yang terjadi pada masa lampau. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan karakteristik dan potensi sumber gempa dalam jangka panjang. Meski demikian, teknologi yang tersedia saat ini belum mampu menentukan secara pasti kapan sebuah gempa besar akan terjadi.
Gempa Panama juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya ketahanan bangunan dan kesiapsiagaan masyarakat. Bangunan yang dirancang sesuai standar ketahanan gempa memiliki peluang lebih baik untuk melindungi penghuninya ketika terjadi guncangan kuat. Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan peta bahaya gempa dalam perencanaan tata ruang, pembangunan fasilitas umum, dan pengawasan konstruksi. Masyarakat juga perlu memahami langkah perlindungan diri, termasuk berlindung saat guncangan berlangsung dan menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan setelah gempa. Simulasi evakuasi secara berkala dapat membantu mengurangi kepanikan ketika bencana benar-benar terjadi.
Peristiwa gempa magnitudo 7,7 di Panama menegaskan bahwa ancaman gempa besar tidak selalu ditandai oleh aktivitas seismik kecil yang sering terjadi sebelumnya. Indonesia perlu menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum untuk memperkuat penelitian sesar aktif, pemantauan pergerakan kerak bumi, dan penerapan standar bangunan tahan gempa. Perhatian terhadap sesar yang relatif tenang menjadi penting karena rendahnya aktivitas kegempaan bukan jaminan rendahnya risiko. Upaya mitigasi harus mempertimbangkan besarnya potensi guncangan serta tingkat kerentanan masyarakat di sekitar sumber gempa. Kesiapsiagaan yang dilakukan sebelum bencana menjadi langkah utama untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan ketika gempa besar terjadi.




