Jakarta, 5 September 2026 – Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) periode 2026–2030 resmi dilantik dan dikukuhkan di Gedung Serba Guna Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu. Kepengurusan baru tersebut dipimpin Menteri Luar Negeri Sugiono sebagai Ketua Umum PB IPSI, menggantikan Prabowo Subianto yang telah memimpin organisasi pencak silat nasional selama puluhan tahun. Pelantikan menjadi penanda dimulainya era baru PB IPSI dengan sejumlah agenda besar, mulai dari penguatan pembinaan atlet hingga memperluas pencak silat di tingkat internasional. Prosesi pelantikan dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman melalui pembacaan keputusan, pengambilan sumpah, dan penyerahan pataka organisasi. Pemerintah berharap pergantian kepemimpinan tidak mengubah konsistensi pembinaan yang telah dibangun sebelumnya. Kepengurusan baru juga dituntut menjaga pencak silat sebagai olahraga prestasi sekaligus warisan budaya Indonesia.
Pelantikan dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh olahraga nasional, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap pengembangan pencak silat dalam empat tahun mendatang. PB IPSI tidak hanya mempunyai tugas meningkatkan prestasi dalam kejuaraan nasional dan internasional, tetapi juga memperkuat tata kelola organisasi. Konsolidasi antara pengurus pusat, pengurus daerah, dan perguruan menjadi salah satu pekerjaan penting kepengurusan baru. Pencak silat mempunyai basis yang luas di berbagai daerah dengan karakter perguruan yang beragam. Seluruh kekuatan tersebut diharapkan dapat bergerak dalam satu agenda pembangunan prestasi nasional.
Sugiono sebelumnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PB IPSI periode 2026–2030 dalam Musyawarah Nasional XVI IPSI yang digelar di Jakarta pada 11 April 2026. Ia merupakan Wakil Ketua Umum PB IPSI pada periode sebelumnya sehingga telah terlibat dalam berbagai agenda organisasi. Pergantian kepemimpinan terjadi setelah Prabowo memutuskan tidak kembali mencalonkan diri karena tanggung jawab sebagai Presiden membutuhkan perhatian dan waktu yang besar. Prabowo telah berkecimpung dalam pengembangan pencak silat selama sekitar 38 tahun sejak 1988. Periode panjang tersebut membuat pergantian ketua umum menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi. Sugiono kini mendapat tugas melanjutkan fondasi yang telah dibangun sekaligus membawa PB IPSI menghadapi tuntutan olahraga modern.
Dalam kepemimpinannya, Sugiono menempatkan pelestarian budaya sebagai salah satu landasan utama program PB IPSI. Menurutnya, pencak silat bukan hanya cabang olahraga bela diri, tetapi bagian dari budaya bangsa yang mengandung nilai karakter, kedisiplinan, keberanian, dan penghormatan. Kepengurusan baru ingin menjaga marwah tersebut ketika pencak silat semakin berkembang sebagai olahraga kompetitif. Pembinaan prestasi dan pelestarian budaya karena itu tidak dipandang sebagai dua agenda yang terpisah. PB IPSI diharapkan mampu menghasilkan atlet berprestasi sekaligus mempertahankan nilai yang menjadi identitas pencak silat Indonesia. Pendekatan tersebut juga menjadi modal ketika pencak silat dipromosikan kepada masyarakat internasional.
Salah satu target terbesar kepengurusan periode 2026–2030 adalah memperluas pencak silat hingga akhirnya dapat dipertandingkan di Olimpiade. Perjuangan menuju ajang olahraga terbesar dunia tersebut membutuhkan pemenuhan berbagai persyaratan organisasi dan teknis internasional. Menpora Erick Thohir menyebut jaringan pencak silat saat ini telah berkembang di 83 negara, melewati salah satu ambang penyebaran yang dibutuhkan yakni sedikitnya 75 negara di empat benua. Namun, luasnya penyebaran belum menjadi satu-satunya syarat untuk memperoleh tempat dalam program Olimpiade. Tata kelola federasi internasional, standardisasi pertandingan, kepatuhan terhadap ketentuan antidoping, hingga konsistensi penyelenggaraan kompetisi juga menjadi bagian penting. Pemerintah dan PB IPSI karena itu harus menjalankan agenda internasionalisasi secara sistematis.
Erick juga mendorong pencak silat lebih dahulu diperkuat sebagai gerakan nasional sebelum mengejar target internasional. Salah satu peluang yang disebut adalah memanfaatkan program Manajemen Talenta Nasional yang mencakup sekitar 241 ribu sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di seluruh Indonesia. Apabila pencak silat dapat dikembangkan secara terstruktur di sekolah, basis atlet dan masyarakat yang mengenal olahraga tersebut akan semakin besar. Kehadiran pelatih berkualitas menjadi unsur penting agar pengembangan tidak hanya bersifat seremonial. Pembinaan sejak usia dini juga memungkinkan pencarian bakat dilakukan lebih sistematis. Dengan basis yang kuat di dalam negeri, Indonesia diharapkan mempunyai fondasi lebih kokoh ketika memperjuangkan pencak silat sebagai olahraga global.
Selain lingkungan pendidikan, pemerintah mendorong pencak silat memperoleh ruang lebih besar dalam pembinaan di institusi negara. Erick mengusulkan pencak silat semakin dimasifkan sebagai bela diri di lingkungan TNI dan Polri sekaligus dikaitkan dengan pembentukan karakter dan semangat bela negara. Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat posisi pencak silat sebagai identitas bela diri nasional. Negara lain telah berhasil menjadikan bela diri tradisionalnya sebagai produk budaya global, seperti taekwondo dari Korea Selatan serta judo dan karate yang identik dengan Jepang. Indonesia dinilai mempunyai peluang serupa karena pencak silat telah dikenal di banyak negara. Tantangannya adalah membangun standardisasi, promosi, dan kompetisi internasional yang berlangsung secara konsisten.
Di bidang prestasi, kepengurusan baru mempunyai pekerjaan untuk meningkatkan kualitas atlet, pelatih, wasit, dan juri. Program pembinaan usia dini perlu terhubung dengan kompetisi berjenjang agar atlet potensial mempunyai jalur yang jelas menuju tingkat nasional. Pemanfaatan sport science juga semakin dibutuhkan untuk mendukung kondisi fisik, teknik, pemulihan, nutrisi, dan performa atlet. PB IPSI harus memastikan prestasi pencak silat Indonesia tetap kuat ketika negara lain semakin serius mengembangkan cabang tersebut. Semakin luas penyebaran pencak silat justru membuat persaingan internasional semakin ketat. Indonesia sebagai negara asal dituntut mempertahankan posisi melalui sistem pembinaan yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Kepengurusan Sugiono juga mempunyai modal diplomasi yang dapat digunakan untuk memperluas jaringan pencak silat di dunia. Posisi Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri memberikan peluang untuk memperkuat komunikasi dengan berbagai negara, meskipun pengelolaan organisasi olahraga tetap harus berjalan profesional sesuai aturan yang berlaku. Dukungan diplomasi dapat diarahkan untuk memperkenalkan pencak silat melalui kegiatan budaya, pendidikan, komunitas, dan kompetisi. Pengembangan federasi di berbagai negara juga perlu diikuti peningkatan jumlah atlet aktif dan kejuaraan agar keberadaan pencak silat tidak sekadar administratif. Sinergi antara PB IPSI, pemerintah, Komite Olimpiade Indonesia, KONI, dan organisasi internasional menjadi semakin penting. Target menuju Olimpiade membutuhkan proses panjang sehingga kesinambungan program harus tetap dijaga melampaui satu periode kepengurusan.
Pelantikan PB IPSI periode 2026–2030 pada akhirnya menandai peralihan dari kepemimpinan panjang Prabowo menuju generasi kepengurusan baru di bawah Sugiono. Fondasi yang telah dibangun selama puluhan tahun kini menjadi modal untuk membawa pencak silat memasuki tahap perkembangan berikutnya. Kepengurusan baru menghadapi tugas menjaga persatuan organisasi, meningkatkan prestasi atlet, memperkuat pembinaan usia dini, dan memperluas jaringan internasional. Pada saat yang sama, identitas pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia harus tetap menjadi bagian utama dari setiap agenda pengembangan. Dukungan pemerintah membuka peluang bagi PB IPSI untuk menjalankan program dalam skala yang lebih luas. Empat tahun mendatang akan menjadi periode penting untuk membuktikan apakah era baru tersebut mampu membawa pencak silat semakin mengakar di Indonesia sekaligus semakin dekat menuju panggung Olimpiade.




