Jakarta, 29 September 2026 –
Kesehatan mental anak menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang yang perlu mendapatkan perhatian orang tua. Kondisi psikologis yang baik membantu anak mengenali emosi, membangun hubungan sosial, menghadapi tekanan, serta menjalani kegiatan belajar dengan lebih optimal. Sebaliknya, masalah emosional yang tidak dikenali dapat memengaruhi perilaku dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan yang berlangsung terus-menerus pada anak.
Perubahan suasana hati merupakan salah satu hal yang dapat diperhatikan, terutama ketika terjadi secara intens atau berlangsung dalam waktu lama. Anak mungkin menjadi lebih mudah marah, sering menangis, terlihat cemas, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, atau memilih menjauh dari keluarga dan teman. Perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental karena dapat terjadi sebagai bagian dari perkembangan anak. Namun, perhatian lebih diperlukan apabila perubahan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kondisi psikologis juga dapat terlihat melalui perubahan pola tidur, nafsu makan, konsentrasi, maupun prestasi di sekolah. Sebagian anak mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan secara langsung sehingga tekanan emosional muncul melalui perilaku atau keluhan fisik. Anak dapat mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, atau merasa tidak nyaman meskipun penyebab fisiknya tidak selalu jelas. Orang tua sebaiknya tidak langsung menganggap perubahan tersebut sebagai bentuk kemalasan atau perilaku mencari perhatian.
Komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua memahami apa yang sedang dialami anak. Anak membutuhkan ruang yang membuatnya merasa aman untuk menceritakan masalah tanpa takut dimarahi, dibandingkan, atau langsung dihakimi. Orang tua dapat memulai percakapan dengan menanyakan perasaan dan aktivitas anak secara sederhana, kemudian mendengarkan jawabannya dengan penuh perhatian. Cara ini dapat membantu anak memahami bahwa perasaannya dapat dibicarakan dan tidak harus dihadapi seorang diri.
Lingkungan keluarga turut berperan dalam menjaga kesejahteraan psikologis anak. Rutinitas tidur yang cukup, aktivitas fisik, pola makan yang baik, kesempatan bermain, dan interaksi keluarga dapat mendukung keseimbangan emosional. Penggunaan perangkat digital dan media sosial juga perlu diperhatikan karena pengalaman negatif di ruang digital, termasuk perundungan, tekanan sosial, dan paparan konten tertentu, dapat memengaruhi kondisi anak. Pendampingan sebaiknya dilakukan melalui komunikasi dan aturan yang sesuai dengan usia, bukan sekadar larangan.
Orang tua juga perlu mempertimbangkan bantuan profesional apabila perubahan perilaku berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu sekolah, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari. Konsultasi dapat dilakukan dengan psikolog, psikiater anak dan remaja, dokter anak, maupun tenaga kesehatan lain yang kompeten. Penilaian profesional diperlukan karena tanda-tanda yang terlihat pada setiap anak dapat memiliki penyebab berbeda. Dukungan sejak dini dapat membantu menentukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Perhatian lebih mendesak diperlukan apabila anak membicarakan keinginan menyakiti diri, merasa hidupnya tidak berharga, atau menunjukkan perilaku yang membahayakan dirinya maupun orang lain. Kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sekadar mencari perhatian dan membutuhkan bantuan segera dari tenaga profesional atau layanan kesehatan darurat. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenali perubahan, tetapi tidak harus melakukan diagnosis sendiri. Kepekaan, komunikasi yang aman, dan akses terhadap bantuan profesional menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental anak.




