Paris, 6 November 2026 – Gelombang demonstrasi besar kembali melanda Prancis pada Kamis (5/11/2026), ketika ratusan ribu masyarakat turun ke jalan untuk menuntut kenaikan upah dan memprotes tingginya biaya hidup. Aksi yang berlangsung di berbagai kota tersebut menyebabkan sedikitnya 448 orang ditangkap dan 53 anggota kepolisian mengalami luka-luka. Kementerian Dalam Negeri Prancis juga mencatat 86 insiden kebakaran selama rangkaian demonstrasi. Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, bentrokan antara kelompok demonstran dan aparat keamanan terjadi di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data pemerintah Prancis, sekitar 575.000 orang mengikuti demonstrasi secara nasional, termasuk 65.000 peserta di Paris. Namun, Konfederasi Umum Buruh atau CGT memperkirakan jumlah demonstran jauh lebih besar, yakni hampir 1,6 juta orang. Serikat pekerja tersebut juga menyebut sekitar 350.000 orang mengikuti aksi di ibu kota. Perbedaan angka menunjukkan adanya kesenjangan penghitungan antara pemerintah dan penyelenggara demonstrasi. Aksi tersebut menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam rangkaian protes sosial yang berlangsung sejak September 2026.
Ketegangan terjadi di Paris, Lyon, Rennes, dan Toulouse ketika sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kelompok yang dinilai melakukan tindakan kekerasan. Di Lyon, aparat menghadapi sejumlah demonstran berpakaian hitam yang melakukan perlawanan. Sementara itu, beberapa bangunan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan akibat aksi vandalisme dan penggunaan kembang api. Pemerintah menegaskan bahwa sebagian besar demonstrasi yang telah mendapatkan izin tetap berlangsung tertib.
Sekretaris Jenderal CGT, Sophie Binet, menyatakan bahwa aksi mogok nasional menunjukkan besarnya tuntutan masyarakat terhadap perbaikan kesejahteraan. Ia mendesak pemerintah segera menaikkan upah pekerja untuk mengimbangi peningkatan biaya hidup. Salah satu tuntutan utama serikat pekerja adalah kenaikan upah minimum sebesar 10 persen. Binet juga menegaskan bahwa gerakan demonstrasi akan terus menyuarakan kepentingan pekerja hingga mendapatkan tanggapan pemerintah. Tuntutan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk pelajar, mahasiswa, dan pekerja sektor publik.
Dampak demonstrasi turut dirasakan sektor pendidikan dan layanan publik di sejumlah wilayah Prancis. Kementerian Pendidikan Tinggi melaporkan gangguan aktivitas pada 60 dari 184 institusi pendidikan tinggi. Serikat pekerja SNES-FSU memperkirakan sekitar 52 persen tenaga pendidik tingkat sekolah menengah ikut melakukan aksi mogok. Polisi juga melakukan intervensi terhadap blokade pelajar di beberapa kota, termasuk Paris dan Bordeaux. Selain pendidikan, pemogokan menyebabkan gangguan pada sebagian aktivitas sektor energi dan penutupan sementara sejumlah fasilitas publik.
Menghadapi meningkatnya tekanan masyarakat, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan rencana penyelenggaraan konferensi sosial pada Senin (9/11/2026). Pertemuan tersebut akan melibatkan perwakilan serikat pekerja dan organisasi pengusaha untuk membahas persoalan upah serta daya beli. Pemerintah berharap dialog dapat menjadi langkah awal meredakan ketegangan yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Namun, sejumlah kelompok demonstran masih menuntut perubahan kebijakan yang lebih konkret. Situasi tersebut menempatkan pemerintah dalam tekanan untuk mencari keseimbangan antara kondisi ekonomi dan tuntutan kesejahteraan masyarakat.
Gelombang demonstrasi terbaru menunjukkan bahwa persoalan biaya hidup, pendidikan, dan layanan publik masih menjadi perhatian utama masyarakat Prancis. Pemerintah telah mengerahkan sekitar 70.000 aparat keamanan untuk mengantisipasi gangguan ketertiban selama aksi berlangsung. Di sisi lain, organisasi pekerja dan kelompok mahasiswa terus menyerukan penyampaian aspirasi melalui demonstrasi. Pertemuan pemerintah dengan serikat pekerja pada 9 November akan menjadi agenda penting dalam menentukan kelanjutan dialog sosial. Sementara itu, aparat keamanan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya aksi lanjutan di berbagai kota Prancis.




