Solo, 22 Agustus 2026 – Tradisi keluarnya gamelan pusaka Kyai Sekati dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasunanan Surakarta diwarnai ketegangan antarkeluarga keraton. Prosesi yang dikenal sebagai miyos gangsa tersebut berlangsung di kawasan Masjid Agung Solo dan menjadi perhatian setelah terjadi adu mulut yang melibatkan sejumlah anggota keluarga keraton. Momen ketegangan itu bahkan terekam dalam video dan kemudian beredar di media sosial. Perselisihan terjadi ketika rangkaian tradisi budaya yang biasanya berlangsung khidmat justru diselingi perdebatan di antara pihak-pihak yang berada di lokasi. Peristiwa tersebut kemudian menjadi sorotan karena berlangsung dalam salah satu tradisi penting Keraton Kasunanan Surakarta.
Tradisi Sekaten sendiri merupakan salah satu rangkaian budaya yang telah lama melekat dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Keluarnya gamelan Kyai Sekati menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan untuk menyambut peringatan Maulid Nabi. Dua perangkat gamelan pusaka biasanya ditempatkan di area Masjid Agung Solo untuk dimainkan selama rangkaian Sekaten berlangsung. Tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa. Karena itu, prosesi keluarnya gamelan pusaka selalu menjadi perhatian masyarakat yang ingin menyaksikan langsung salah satu warisan budaya Keraton Solo.
Ketegangan yang muncul dalam prosesi kali ini terjadi ketika sejumlah anggota keluarga keraton terlibat adu mulut di tengah kegiatan. Suasana sempat memanas karena terdapat perbedaan pandangan mengenai jalannya prosesi dan posisi pihak-pihak tertentu dalam kegiatan tersebut. Sejumlah orang kemudian terlihat berusaha menenangkan situasi agar perdebatan tidak berkembang menjadi keributan yang lebih besar. Meskipun terjadi ketegangan, rangkaian tradisi tetap dapat dilanjutkan dan kegiatan tidak sampai berhenti secara keseluruhan. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan publik setelah rekaman mengenai adu mulut beredar luas melalui media sosial.
Perselisihan internal keluarga keraton bukan pertama kalinya menjadi perhatian masyarakat. Keraton Kasunanan Surakarta dalam beberapa tahun terakhir memang menghadapi dinamika internal yang melibatkan sejumlah pihak di lingkungan keluarga kerajaan. Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan, pengelolaan keraton, serta pelaksanaan sejumlah kegiatan budaya terkadang muncul ke ruang publik. Situasi tersebut membuat kegiatan yang seharusnya berfokus pada pelestarian tradisi dapat ikut dipengaruhi oleh persoalan internal. Meski demikian, masyarakat tetap berharap perbedaan tersebut dapat diselesaikan tanpa mengganggu keberlangsungan tradisi budaya yang menjadi bagian dari identitas Kota Solo.
Tradisi miyos gangsa memiliki makna penting karena gamelan pusaka tidak sekadar dipandang sebagai perangkat musik tradisional. Gamelan Kyai Sekati merupakan bagian dari peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi lingkungan keraton. Ketika gamelan tersebut dikeluarkan dari lingkungan keraton menuju Masjid Agung, prosesi dilakukan dengan tata cara tertentu yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat kemudian dapat menyaksikan gamelan dimainkan dalam rangkaian Sekaten. Keberadaan tradisi tersebut menjadi salah satu daya tarik budaya yang setiap tahun mampu menarik perhatian warga maupun wisatawan.
Kawasan Masjid Agung Solo biasanya menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat selama rangkaian Sekaten berlangsung. Setelah gamelan dikeluarkan, suasana di sekitar lokasi dapat menjadi lebih ramai karena masyarakat datang untuk menyaksikan prosesi sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi. Tradisi tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara budaya keraton dan kehidupan masyarakat secara langsung. Karena memiliki nilai sejarah yang kuat, setiap pelaksanaan Sekaten mendapatkan perhatian tidak hanya dari kalangan keluarga keraton, tetapi juga pemerintah daerah, budayawan, serta masyarakat Solo. Kondisi tersebut membuat persoalan yang terjadi dalam prosesi mudah menjadi perhatian publik.
Adu mulut yang terjadi di tengah prosesi kemudian memunculkan berbagai reaksi. Sebagian masyarakat menyayangkan munculnya ketegangan dalam kegiatan yang seharusnya berlangsung dengan suasana khidmat. Namun, terdapat pula pihak yang menilai bahwa persoalan internal keluarga sebaiknya tidak menghilangkan makna budaya dari pelaksanaan Sekaten. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi keraton memiliki posisi yang cukup kuat di tengah masyarakat Solo. Karena itu, penyelesaian persoalan internal menjadi penting agar tidak terus memengaruhi kegiatan budaya yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat luas.
Bagi Keraton Kasunanan Surakarta, keberlangsungan tradisi Sekaten memiliki arti penting dalam menjaga warisan budaya Jawa. Setiap rangkaian prosesi mengandung tata cara dan simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pelaksanaan yang konsisten membantu memastikan tradisi tersebut tetap dikenal oleh generasi muda di tengah perubahan zaman. Konflik internal yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan tentu perlu dikelola agar tidak mengurangi perhatian terhadap nilai budaya yang hendak diwariskan. Keraton dan keluarga besar diharapkan dapat memisahkan persoalan internal dengan pelaksanaan tradisi sehingga kegiatan budaya tetap dapat berjalan secara tertib.
Peristiwa adu mulut tersebut juga menjadi pengingat bahwa pengelolaan tradisi besar membutuhkan koordinasi yang baik di antara seluruh pihak. Setiap orang yang terlibat dalam prosesi perlu memahami peran dan tanggung jawab masing-masing agar tidak muncul persoalan ketika kegiatan berlangsung. Komunikasi sebelum acara dapat membantu mengantisipasi perbedaan pemahaman mengenai tata cara maupun posisi setiap pihak. Jika terjadi persoalan, penyelesaian secara internal dan dialog menjadi pilihan yang lebih baik daripada membiarkan perdebatan terbuka di hadapan masyarakat. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga wibawa tradisi sekaligus mencegah persoalan keluarga berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Meski diwarnai adu mulut antaranggota keluarga keraton, tradisi gamelan Sekaten di Solo tetap menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Gamelan Kyai Sekati tetap dikeluarkan dan prosesi budaya dapat berlangsung di kawasan Masjid Agung. Peristiwa ketegangan yang terekam dan kemudian beredar di media sosial memang menimbulkan perhatian, tetapi tidak seharusnya menghapus nilai sejarah dan budaya dari tradisi tersebut. Keluarga Keraton Kasunanan Surakarta diharapkan dapat menyelesaikan perbedaan secara baik agar konflik internal tidak kembali mengganggu kegiatan budaya. Dengan menjaga tradisi sekaligus membangun komunikasi yang lebih baik di antara keluarga keraton, warisan budaya Sekaten dapat terus dilaksanakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.





