Jakarta, 23 Agustus 2026 – Regulator industri air Inggris mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan air dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat umat Muslim melakukan wudhu dan ketika komunitas Asia mencuci beras. Imbauan tersebut merupakan bagian dari program efisiensi penggunaan air yang didanai regulator layanan air Inggris, Ofwat, di tengah kondisi ketersediaan air yang semakin mendapat tekanan. Salah satu proyek yang melibatkan komunitas Muslim dilakukan melalui kerja sama South Staffordshire Water, Fakultas Teologi Universitas Cambridge, dan Cambridge Central Mosque. Program tersebut mengajak umat Muslim menggunakan air secara lebih terukur ketika berwudhu tanpa mengurangi pelaksanaan ibadah. Inisiatif serupa juga menyasar kebiasaan rumah tangga komunitas Asia dalam mencuci beras agar penggunaan air dapat ditekan.
Program penghematan air untuk umat Muslim tersebut salah satunya diuji di Cambridge dengan mendorong penggunaan sekitar satu liter air untuk melakukan wudhu. Ofwat menyebut sebagian orang dapat menggunakan hingga sekitar 12 liter air mengalir ketika melakukan wudhu, terutama apabila keran dibiarkan terus terbuka selama proses tersebut. Dengan menggunakan wadah berukuran satu liter, uji coba memperkirakan penghematan dapat mencapai hingga 55 liter per orang setiap hari bagi mereka yang melakukan wudhu lima kali sehari. Di Cambridge, pelaksanaan uji coba tersebut disebut mampu menghemat sekitar 5.900 liter air setiap hari. Program itu juga dikaitkan dengan upaya menghidupkan kembali praktik penggunaan air secara hemat dalam pelaksanaan wudhu.
Imbauan tersebut muncul ketika Inggris menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air akibat cuaca yang relatif kering dan meningkatnya permintaan masyarakat. Laporan kondisi air di Inggris menunjukkan rendahnya curah hujan serta penurunan aliran sungai dan cadangan air di sejumlah wilayah. Pada periode pertengahan hingga akhir Juli, curah hujan tercatat sangat rendah dan penyimpanan air waduk berada di bawah rata-rata jangka panjang untuk periode yang sama. Sejumlah wilayah bahkan telah menerapkan pembatasan penggunaan air untuk menghadapi tingginya permintaan dan kondisi kekeringan. Situasi tersebut membuat pemerintah dan perusahaan penyedia air berupaya mencari berbagai cara untuk mengurangi konsumsi tanpa hanya mengandalkan pembatasan penggunaan air secara langsung.
Selain wudhu, kampanye tersebut menyasar kebiasaan mencuci beras yang dilakukan sebagian keluarga dari komunitas Asia. Koki selebritas Ping Coombes dilibatkan dalam salah satu inisiatif untuk memberikan edukasi mengenai cara menggunakan air secara lebih efisien ketika menyiapkan beras untuk dimasak. Kebiasaan mencuci beras berkali-kali hingga air terlihat sangat bening menjadi salah satu perilaku yang dibahas dalam program tersebut. Edukasi yang diberikan tidak bertujuan melarang masyarakat mencuci beras, melainkan mendorong mereka mempertimbangkan kembali jumlah air yang digunakan dalam proses tersebut. Pendekatan berbasis kebiasaan sehari-hari itu dipilih karena penghematan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak rumah tangga dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap konsumsi air secara keseluruhan.
Ofwat menempatkan program tersebut sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang menghemat air. Program Water Efficiency Campaign yang diluncurkan pada 2026 bertujuan memberikan informasi dan panduan praktis agar rumah tangga maupun dunia usaha dapat mengurangi penggunaan air. Tekanan terhadap sumber daya air diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan perubahan iklim. Ofwat memperkirakan Inggris akan membutuhkan tambahan sekitar lima miliar liter air setiap hari pada 2055. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dipandang sebagai salah satu bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia, lingkungan, dan ketersediaan sumber daya air.
Meski memiliki tujuan penghematan air, program yang secara khusus menyebut kebiasaan komunitas Muslim dan Asia tersebut juga memunculkan kritik. Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa kelompok masyarakat tertentu menjadi sasaran komunikasi khusus ketika persoalan kehilangan air akibat kebocoran jaringan masih menjadi masalah besar. Kritik tersebut semakin kuat setelah penelitian yang dikutip dalam pemberitaan menyebut volume air yang hilang melalui kebocoran pipa di Inggris dan Wales mencapai miliaran liter setiap hari. Para pengkritik menilai upaya mengubah perilaku rumah tangga tetap penting, tetapi perbaikan infrastruktur dan pengurangan kebocoran juga harus menjadi prioritas. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penghematan air tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumen, tetapi juga dengan efisiensi sistem distribusi air secara keseluruhan.
Di tengah kritik tersebut, penyelenggara program menekankan bahwa kampanye tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan umat Muslim atau komunitas Asia atas persoalan ketersediaan air di Inggris. Pendekatan yang digunakan lebih diarahkan pada pencarian cara praktis untuk mengurangi konsumsi air berdasarkan kebiasaan yang memang dilakukan masyarakat. Dalam konteks wudhu, penggunaan air secara hemat juga memiliki landasan yang dikenal dalam tradisi Islam sehingga pesan konservasi air dapat disampaikan tanpa mengubah tata cara ibadah. Tantangannya adalah memastikan komunikasi tidak menciptakan kesan bahwa kelompok tertentu dianggap lebih boros dibandingkan masyarakat lainnya. Karena itu, penyampaian edukasi mengenai penghematan air perlu dilakukan secara sensitif dan tetap mempertimbangkan keragaman budaya serta praktik keagamaan.
Kondisi air di Inggris membuat isu tersebut diperkirakan akan terus menjadi perhatian dalam beberapa tahun mendatang. Perubahan iklim, peningkatan kebutuhan penduduk, periode cuaca panas, dan rendahnya curah hujan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sungai, waduk, serta sumber air bawah tanah. Pemerintah dan regulator tidak hanya membutuhkan kebijakan pembatasan ketika kondisi sudah kritis, tetapi juga perubahan kebiasaan masyarakat dalam penggunaan air sehari-hari. Penghematan melalui aktivitas sederhana seperti menutup keran ketika tidak digunakan, mengurangi durasi penggunaan air, serta menggunakan wadah dengan takaran tertentu dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Namun, langkah tersebut perlu berjalan bersama investasi infrastruktur agar penghematan dari sisi konsumen tidak tertutupi oleh kehilangan air dalam sistem distribusi.
Imbauan Inggris kepada umat Muslim untuk lebih hemat air ketika berwudhu dan kepada komunitas Asia agar mengurangi penggunaan air saat mencuci beras pada akhirnya menjadi bagian dari strategi menghadapi tekanan sumber daya air. Program tersebut memperlihatkan bagaimana regulator mencoba menggunakan pendekatan berbasis komunitas untuk mengubah kebiasaan penggunaan air tanpa menghilangkan aktivitas keagamaan maupun budaya masyarakat. Uji coba penggunaan sekitar satu liter air untuk wudhu menunjukkan bahwa perubahan sederhana dapat menghasilkan penghematan yang cukup besar apabila dilakukan secara konsisten. Di sisi lain, kritik mengenai kebocoran jaringan memperlihatkan bahwa tanggung jawab pengelolaan air juga berada pada perusahaan dan pemerintah yang mengelola infrastruktur. Ke depan, penghematan air di Inggris akan membutuhkan kombinasi antara perubahan perilaku masyarakat, perbaikan jaringan distribusi, kebijakan pengelolaan sumber daya, serta investasi infrastruktur agar kebutuhan air tetap dapat dipenuhi di tengah perubahan kondisi iklim.




