Jakarta, 7 September 2026 – Kementerian Perdagangan mencatat industri pengolahan semakin mendominasi struktur ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kontribusi sektor tersebut mencapai 82,18 persen terhadap keseluruhan nilai ekspor nasional, jauh melampaui sektor pertambangan, migas, maupun pertanian. Nilai ekspor industri pengolahan selama tujuh bulan pertama tahun ini tercatat mencapai sekitar 137,26 miliar dolar AS. Capaian tersebut meningkat 7,16 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai perkembangan tersebut menunjukkan produk bernilai tambah semakin mempunyai peran penting dalam perdagangan luar negeri Indonesia. Pemerintah ingin tren itu terus diperkuat melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk nasional. Industri pengolahan diharapkan menjadi salah satu fondasi utama untuk menjaga ketahanan ekspor di tengah perubahan ekonomi global.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 167,03 miliar dolar AS. Angka tersebut tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, ekspor nonmigas mencapai 160,01 miliar dolar AS atau meningkat 5,21 persen secara tahunan. Data tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan luar negeri Indonesia masih sangat ditopang oleh komoditas nonmigas. Pemerintah menilai pertumbuhan ekspor menjadi sinyal positif karena berlangsung ketika kondisi perdagangan internasional menghadapi berbagai tekanan. Perubahan kebijakan tarif, perlambatan ekonomi di sejumlah negara, serta ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan bagi eksportir. Karena itu, peningkatan ekspor produk industri dinilai penting untuk menjaga stabilitas kinerja perdagangan Indonesia.

Dominasi industri pengolahan juga memperlihatkan adanya pergeseran struktur ekspor menuju produk yang telah melewati proses produksi dan mempunyai nilai tambah lebih tinggi. Setelah industri pengolahan dengan kontribusi 82,18 persen, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang sekitar 11,73 persen terhadap total ekspor. Sektor migas berada pada kisaran 4,20 persen, sedangkan sektor pertanian memberikan kontribusi sekitar 1,89 persen. Komposisi tersebut menunjukkan produk manufaktur dan hasil pengolahan mempunyai posisi yang sangat besar dalam perdagangan Indonesia. Pemerintah ingin ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah terus dikurangi secara bertahap. Pengolahan komoditas di dalam negeri dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sebelum produk dikirim ke pasar internasional. Selain meningkatkan pendapatan ekspor, proses tersebut juga berpotensi memperluas aktivitas industri dan lapangan pekerjaan.

Budi Santoso menekankan peningkatan nilai tambah menjadi salah satu kunci agar produk Indonesia mampu mempertahankan daya saing di pasar global. Komoditas yang sebelumnya banyak dipasarkan sebagai bahan baku didorong untuk melewati proses pengolahan sebelum diekspor. Strategi tersebut membuat nilai jual produk dapat meningkat sekaligus memperpanjang rantai ekonomi di dalam negeri. Hilirisasi juga diharapkan mendorong tumbuhnya industri pendukung, logistik, teknologi, hingga jasa yang berkaitan dengan proses produksi. Pemerintah melihat peluang tersebut tidak hanya terdapat pada sektor mineral, tetapi juga perkebunan, pertanian, perikanan, dan berbagai komoditas lainnya. Tantangannya adalah memastikan industri nasional mempunyai kapasitas, teknologi, dan efisiensi yang memadai. Tanpa peningkatan produktivitas, produk pengolahan Indonesia dapat menghadapi persaingan ketat dari negara eksportir lainnya.

Kinerja ekspor pada Juli 2026 sendiri menunjukkan perkembangan positif dengan nilai mencapai 26,22 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 2,98 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,05 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas pada bulan yang sama mencapai sekitar 25,43 miliar dolar AS. Secara bulanan, ekspor nonmigas meningkat 4,25 persen, sedangkan secara tahunan tumbuh 6,84 persen. Beberapa kelompok produk mencatat pertumbuhan cukup tinggi dan membantu menopang kinerja tersebut. Mesin dan peralatan mekanis mengalami kenaikan ekspor sebesar 23,05 persen secara bulanan. Tembaga dan barang daripadanya meningkat 21,20 persen, sementara pakaian dan aksesori bukan rajutan tumbuh 20,65 persen.

Di sisi lain, tidak seluruh kelompok komoditas mencatat pertumbuhan pada Juli. Ekspor logam mulia serta perhiasan atau permata mengalami penurunan sekitar 45,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nikel dan barang daripadanya juga turun sekitar 38,25 persen. Sementara ekspor kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati mengalami penurunan sekitar 6,21 persen. Perubahan tersebut menunjukkan kinerja ekspor masih dapat berfluktuasi dari satu komoditas ke komoditas lainnya. Harga internasional, permintaan negara tujuan, kapasitas produksi, serta kondisi perdagangan global mempunyai pengaruh terhadap nilai ekspor setiap bulan. Pemerintah karena itu tidak hanya mengandalkan beberapa komoditas unggulan untuk mempertahankan pertumbuhan. Diversifikasi produk dan pasar menjadi salah satu langkah yang terus didorong agar risiko dapat tersebar lebih luas.

Penguatan industri pengolahan juga berkaitan dengan agenda pemerintah memperluas pasar ekspor Indonesia. Produk yang memiliki tingkat pengolahan lebih tinggi dinilai memberikan kesempatan lebih besar untuk memasuki berbagai segmen konsumen internasional. Namun, produk tersebut harus memenuhi standar teknis, kualitas, keamanan, serta ketentuan yang berlaku di negara tujuan. Pelaku industri juga harus mampu menjaga konsistensi pasokan agar hubungan dagang dapat berlangsung dalam jangka panjang. Pemerintah berupaya membantu melalui promosi perdagangan, fasilitasi perjanjian dagang, serta pembukaan akses menuju pasar nontradisional. Negara-negara di kawasan Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eurasia menjadi bagian dari wilayah yang mempunyai peluang untuk terus dikembangkan. Perluasan pasar dinilai semakin penting ketika kondisi ekonomi di pasar ekspor tradisional mengalami perubahan.

Kontribusi besar industri pengolahan juga memberikan tantangan untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan daya saing biaya produksi di dalam negeri. Industri membutuhkan pasokan energi, logistik, tenaga kerja, pembiayaan, dan infrastruktur yang kompetitif agar produk Indonesia mampu bersaing dari sisi harga. Efisiensi proses perizinan dan kepastian kebijakan juga mempunyai pengaruh terhadap keputusan perusahaan memperluas kapasitas produksinya. Pemerintah ingin peningkatan ekspor tidak hanya berasal dari perusahaan besar, tetapi turut melibatkan industri kecil dan menengah. Pelaku IKM yang mempunyai produk berkualitas dapat diarahkan memasuki rantai pasok eksportir maupun melakukan ekspor secara langsung. Pemanfaatan perdagangan digital juga membuka kesempatan bagi perusahaan dengan skala lebih kecil menjangkau pembeli dari luar negeri. Dengan basis eksportir yang semakin luas, ketahanan perdagangan Indonesia diharapkan menjadi lebih kuat.

Kinerja perdagangan sepanjang Januari-Juli 2026 juga masih menghasilkan surplus meskipun nilainya relatif terbatas dibandingkan surplus nonmigas. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sekitar 3,70 miliar dolar AS. Surplus nonmigas mencapai 22,45 miliar dolar AS, tetapi sebagian besar tergerus oleh defisit perdagangan migas sekitar 18,75 miliar dolar AS. Amerika Serikat menjadi salah satu penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai sekitar 12,81 miliar dolar AS. Surplus juga tercatat dalam perdagangan dengan India, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Dari sisi komoditas, lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja menjadi kelompok penyumbang surplus nonmigas yang besar. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga ekspor sekaligus mengendalikan ketergantungan impor pada sektor tertentu.

Kemendag menilai kontribusi industri pengolahan yang telah mencapai lebih dari 82 persen memberikan modal penting bagi transformasi struktur ekspor Indonesia. Pemerintah akan terus mendorong hilirisasi agar lebih banyak komoditas dipasarkan dalam bentuk produk dengan nilai tambah tinggi dibandingkan bahan mentah. Pertumbuhan 7,16 persen pada ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-Juli menjadi indikator bahwa strategi tersebut mempunyai ruang untuk terus dikembangkan. Namun, peningkatan nilai ekspor harus diikuti perbaikan produktivitas, inovasi, kualitas produk, dan perluasan pasar agar pertumbuhan dapat bertahan dalam jangka panjang. Dunia usaha juga perlu mengantisipasi perubahan permintaan serta kebijakan perdagangan negara mitra yang dapat terjadi dengan cepat. Pemerintah berharap kerja sama dengan pelaku industri dapat menjaga momentum ekspor sekaligus meningkatkan posisi produk Indonesia dalam rantai pasok global. Dengan struktur ekspor yang semakin didominasi produk pengolahan, Indonesia diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari setiap komoditas yang dipasarkan ke luar negeri.