Pandeglang, 13 September 2026 – Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda memasuki hari kedelapan dengan pengerahan kekuatan yang semakin besar. Tim SAR gabungan mengoperasikan sebanyak 20 kapal dan satu helikopter untuk menyisir wilayah yang telah ditentukan berdasarkan evaluasi pencarian sebelumnya. Jumlah armada laut tersebut menjadi salah satu pengerahan terbesar sejak operasi dimulai setelah rombongan dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Basarnas memastikan seluruh unsur yang terlibat tetap berkomitmen mengoptimalkan sumber daya untuk menemukan delapan orang tersebut. Operasi dilakukan melalui jalur laut dan udara dengan pembagian sektor agar penyisiran berlangsung lebih terarah. Kondisi cuaca, arah angin, gelombang, dan pergerakan arus tetap menjadi faktor utama dalam menentukan strategi pencarian.
Delapan orang yang masih dicari terdiri atas lima jurnalis bersama tiga orang yang merupakan kapten kapal, anak buah kapal, dan pemandu. Mereka menggunakan kapal cepat Arupadhatu 1 dalam perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan kegiatan peliputan. Rombongan dilaporkan kehilangan kontak sejak 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Sejak laporan tersebut diterima, operasi SAR terus dilakukan dengan wilayah pencarian yang berubah dan diperluas berdasarkan hasil evaluasi setiap hari. Tim belum mendapatkan kepastian mengenai posisi kapal maupun seluruh orang yang berada di dalamnya. Kondisi tersebut membuat operasi dilanjutkan setelah masa pencarian awal berakhir.
Berdasarkan evaluasi tim gabungan, wilayah pencarian dibagi menjadi tujuh sektor dengan enam sektor berada di permukaan laut. Pembagian tersebut dilakukan agar setiap kapal memiliki wilayah operasi yang jelas dan penyisiran dapat berlangsung secara sistematis. Area pencarian permukaan laut mencapai sekitar 4.586 nautical mile persegi, sedangkan pencarian udara mencakup sekitar 2.063 nautical mile persegi. Secara keseluruhan, wilayah yang menjadi bagian operasi mencapai sekitar 6.649 nautical mile persegi. Luasnya kawasan menjadi tantangan tersendiri karena kapal maupun objek berukuran kecil dapat sulit terlihat di tengah kondisi laut terbuka. Setiap unsur karena itu harus mengikuti pola pencarian yang telah ditentukan berdasarkan koordinat dan analisis terbaru.
Armada yang terlibat berasal dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai. Tiga kapal perang Republik Indonesia turut diperkuat satu kapal TNI AL lainnya, sementara sejumlah kapal patroli kepolisian dikerahkan ke sektor yang telah ditentukan. Tiga kapal SAR dari Banten, Lampung, dan Jakarta juga bergabung dalam operasi tersebut. Selain kapal berukuran besar, tim menggunakan rigid inflatable boat untuk melakukan penyisiran pada wilayah yang membutuhkan manuver lebih fleksibel. Dua kapal KPLP turut memperkuat operasi pencarian. Seluruh armada bergerak berdasarkan pembagian sektor sehingga wilayah yang luas dapat diperiksa secara bersamaan.
Dukungan udara diberikan melalui satu helikopter yang melakukan pengamatan dari ketinggian. Pencarian melalui udara memiliki keuntungan karena dapat mengamati permukaan laut dalam jangkauan lebih luas dibandingkan kapal. Namun, efektivitasnya sangat dipengaruhi kondisi awan, gelombang, dan jarak pandang. Awak helikopter mencari kemungkinan adanya kapal, pelampung, serpihan, maupun objek lain yang dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan rombongan. Apabila terdapat temuan dari udara, informasi koordinat dapat segera disampaikan kepada unsur laut terdekat untuk diperiksa. Kombinasi pencarian laut dan udara diharapkan meningkatkan kemungkinan menemukan petunjuk baru.
Cuaca tetap menjadi tantangan selama operasi berlangsung. Pada pencarian sebelumnya, kondisi perairan dilaporkan berawan dengan angin bertiup dari arah tenggara sekitar 10 hingga 20 knot. Tinggi gelombang di beberapa sektor berkisar antara 0,5 sampai 2,5 meter sehingga dapat memengaruhi kemampuan kapal melakukan pengamatan. Gelombang yang cukup tinggi juga membuat benda kecil di permukaan menjadi lebih sulit terlihat. Tim SAR harus mempertimbangkan keselamatan personel sebelum memasuki sektor dengan kondisi laut yang kurang bersahabat. Perubahan cuaca terus dipantau agar pergerakan armada dapat disesuaikan dengan situasi aktual.
Pengerahan 20 kapal menunjukkan peningkatan kekuatan dibandingkan operasi hari sebelumnya yang menggunakan sekitar 18 kapal dan satu helikopter. Penambahan tersebut dilakukan untuk memperbesar jangkauan sekaligus meningkatkan intensitas penyisiran. Beberapa sektor mendapatkan perhatian lebih besar berdasarkan temuan yang diperoleh selama operasi sebelumnya. Tim tidak hanya mencari kapal secara utuh, tetapi juga berbagai benda yang dapat menjadi petunjuk untuk menentukan arah pergerakan. Setiap temuan harus diperiksa sebelum dinyatakan berkaitan dengan rombongan. Langkah verifikasi diperlukan karena berbagai benda lain juga dapat ditemukan mengapung di perairan Selat Sunda.
Pergerakan arus menjadi salah satu faktor penting karena delapan orang tersebut telah hilang selama lebih dari sepekan. Dalam rentang waktu tersebut, kapal atau benda yang berada di permukaan dapat berpindah jauh dari titik awal akibat kombinasi arus, angin, dan gelombang. Tim SAR terus memperbarui perhitungan berdasarkan kondisi oseanografi untuk menentukan sektor yang memiliki peluang lebih tinggi. Informasi mengenai benda yang ditemukan selama pencarian sebelumnya turut digunakan sebagai bahan evaluasi. Penyisiran juga dapat diarahkan menuju garis pantai dan pulau yang berada dalam jalur perkiraan arus. Strategi tersebut membuat operasi tidak hanya berpusat pada lokasi terakhir komunikasi diketahui.
Pihak keluarga masih menunggu perkembangan pencarian dengan harapan seluruh rombongan dapat segera ditemukan. Tim SAR berupaya menyampaikan setiap perkembangan berdasarkan informasi yang telah diverifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru. Dukungan dan doa juga terus datang dari kalangan jurnalis serta masyarakat di berbagai daerah. Operasi yang berlangsung lebih dari satu pekan membutuhkan ketahanan personel dan koordinasi antarlembaga agar efektivitas tetap terjaga. Pergantian personel dapat dilakukan untuk memastikan tim yang bekerja di laut maupun udara berada dalam kondisi siap. Keselamatan petugas tetap menjadi perhatian meskipun operasi dilakukan dengan intensitas tinggi.
Memasuki hari kedelapan, pengerahan 20 kapal dan satu helikopter menunjukkan operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal di Selat Sunda masih dilakukan secara maksimal. Tim SAR gabungan terus menyisir sektor laut dan udara dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta pergerakan arus. Operasi sebelumnya belum menemukan keberadaan delapan orang maupun kapal cepat Arupadhatu 1 secara pasti. Setiap petunjuk baru akan dianalisis untuk menentukan kemungkinan perubahan wilayah pencarian berikutnya. Tim gabungan tetap berupaya mengoptimalkan seluruh kekuatan yang tersedia selama masa pencarian berlangsung. Harapan utama keluarga, rekan sesama jurnalis, dan seluruh personel yang terlibat tetap sama, yakni delapan orang yang hilang dapat segera ditemukan dan mendapatkan kepastian mengenai kondisi mereka.






